Archive for December, 2006

Again…..What’s the matter???

6 goals conceded in the last 4 games?? That’s too bad…Koordinasi lini belakang sangat kurang…Bener2 butuh pemimpin di lini belakang…Kualitas sih emg pada bagus…Tapi tanpa pemimpin ya jadi ancur gitu jadinya…Smoga Terry cepat sembuh…Smoga weekend ini Chelsea bisa kembali ke jalurnya meraih kemenangan lagi utk nempel si MU…Come on Chelsea!!

BTW, katanya dari rekomendasi Ashley, Joe, Frank, dan John, katanya om Jose mesti ngerekrut Micah Richards…Hmmm…Menurut gw utk umur yg masih sangat belia gitu permainannya cukup menawan koq…Cocok utk direkrut utk ngegantiin Khalid (Bouhlarouz) yg mainnya naek turun…Udah gitu orang Inggris pula…Lebih bagus lagi…Jadi aroma Inggris di Chelsea jadi smakin kuat deh…Hehehehe…

Btw,masalah formasi nih…Entah kenapa beberapa pertandingan terakhir di pertengahan pasti formasi Chelsea itu jadi aneh2…Apalagi kalo udah ketinggalan, Om Jose akan menggunakan segala cara…Yg paling aneh waktu si Bridge dan Ashley Cole dimaenin bareng…Entah siapa yg jadi gelandang kiri dan bek kiri, atau malahan salah satu ada yg jadi bek tengah…Waduh3…Gile dah om Jose…Pokoknya smoga Chelsea juara di musim ini…Hidup Chelsea!!

SONY SHOWROOM YEAR END SALE!!

Titipan dari Kantor, dimintain tolong utk mouth-to-mouth marketing (istilah waktu e-commercenya apa yak? Apa gitu juga?? Lupa gw…Hehehehe)

“Hadirilah!! Sony Showroom Year End Sale DISC up to 40%!! Hanya 4 hari, 26-29 Des!! “Dengan produk2 Sbb:
- WEGA TV
- Cyber-shot
- Handycam
- Walkman

Tempat: Rasuna Said Kav B6, Jakarta (Gedung Sony Showroom & Service).

Waktu: 9am-5pm

Limited Stock!

Grobak…Oh Grobak….

Hahahahaha…

Gile3x…Didier Grobak emang TOP BGT dah…Menang lagi…1-0…Kasian juga nih Sheva…Masa’ di Piala Liga tetep gak bisa ngegolin…Jgn nyerah lah pokoknya…Berjuang terus!! Mumpung masih ada kesempatan…

Pengertian….

Satu kata yg slalu aja jadi masalah antara orang2…Entah antara ortu-anak, pasangan dgn pasangan, atasan dgn bawahan, dll…Knapa ya ngertiin orang itu susah? Apa sebenernya orang itu gak perlu dimengerti? Well, I don’t have any idea about this problem…Yg gw tau kenapa susah terjalin pengertian krn manusia adalah mahkluk yg dinamis…Yg tidak dapat disamakan begitu aja tiap harinya…Maksudnya?? Ya jgn pernah memandang orang sama tiap hari…Bisa aja sekarang baek, besok dia malah ngebacok loe…Bayangin aja ya…Utk satu orang aja loe butuh metode berkomunikasi yg beda tiap harinya…Gimana kalo banyak orang?? Hmmm…Tau lah…

Eh, BTW tadi gw nulis komunikasi ya? Mungkinkah itu jawabannya utk meningkatkan saling pengertian?? Well,maybe yes maybe no…Trus kalo nggak, apalagi donk?? Coz kayaknya itu jalan satu2nya sih utk ningkatin rasa saling pengertian…Atau ada jalan lain?? Kalo ada coba comment yah…

Choosing….

Ternyata benar apa yg dikatakan orang2 bahwa hidup adalah pilihan. Tidak hanya memilih antara baik dan buruk, tapi juga bisa memilih di antara dua yg terbaik. Hal ini entah kenapa selalu aja gw alami dan entah kenapa juga lebih intens lagi waktu gw udah lulus dari Fasilkom UI tercinta itu…Ternyata sangat….sangat….sangat sulit utk memilih….Apalagi di antara pilihan2 tsb gw bener2 gak ada petunjuk mana yg harus gw pilih…Apa gw kurang berdoa, bersyukur atau gimana?? Sampe2 gw gak bisa ngeliat mana yg lebih baik gw pilih…Nggak jarang gw ngambil keputusan yg salah, tapi keputusan yg tepat pun kadang gw bisa raih….Tapi kalo dirata2 kayaknya masih 50-50 antara yg tepat dan yg nggak…Atau karna gwnya aja yg kurang bersyukur…Duh,entahlah ya…Mungkin gw butuh lebih banyak berdoa dan bangun malem…Memang ternyata hidup itu berat….Smoga gw bisa menghadapinya dengan sebaik-baiknya…Amin

Friends, I need your help….Kalo loe dihadapkan kepada sebuah pilihan, entah gimanapun itu…Apa sih yg loe bakal lakukan supaya apa yg loe pilih kemungkinannya ya minimal 70% baik utk loe lah??

YOI BANGET DAH……

Hehehehe….Hore…Hore…Hore….Yes…Yes…Yes…Beda 2….Beda 2…Beda 2…Malahan kata om Jose itu artinya udah unggul 1, krn nanti Chelsea bakal ngalahin MU di stamford bridge (hahahaha…Emg dah manajer bocor…Pernyataannya bocor mlulu…=P)….BTW,gile bener dah emg Chelsea…Pertahanan tanpa Terry bagaikan sayur asem gak pake garem (lho??=P)…Congrats for Lampard….Akhirnya ngelewatin rekor Dennis Wise…For Drogba, smoga taon ini jadi top skorer dah…Hidup Chelsea!!

Realitas Sexual: Poligami vs Selingkuh

Yg ini juga bukan gw yg nulis…Cuma co-pas doank…Smoga bermanfaat sebagai bahan pemikiran aja…

 

 

Realitas Sexual: Poligami vs Selingkuh

Pernikahan kedua Aa Gym [1] dengan Alfarini Eridani, janda beranak 3 berumur 37 tahun, menjadi polemik di masyarakat. Bahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, dan Presiden SBY didamping Ny. Ani Yudhoyono perlu melakukan pertemuan khusus untuk memperbincangkan polemik ini.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pernikahan Aa Gym. Pernikahan itu syah secara hukum agama maupun administrastif, bahkan telah mendapat ijin dari istri Aa Gym, Teh Ninih. Alfarini Eridani pun sadar saat dinikahi bahwa kelak dirinya akan menjadi istri kedua. Tapi justru yang keblingsatan adalah jamaah Aa Gym, terutama kaum hawa.

Tulisan ini bukan membahas polemik pernikahan kedua Aa Gym. Itu hak beliau dan wilayah private yang tidak layak dipergunjingkan. Hanya saja, pada saat polemik poligami ini mendapat perhatian serius dari Istana, pada saat bersamaan kita dikejutkan dengan terbongkarnya skandal sex anggota DPR Yahya Zaini [2] dan artis Maria Eva [3], partner selingkuhannya.

Aa Gym, Teh Ninih, Teh Rini, Yahya Zaini dan Maria Eva hanyalah korban dari sebuah perdebatan wacana di media. Poligami versus Selingkuh: Itulah perbincangan seriusnya!

***

Sampai tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia adalah 206,264,595 jiwa. Dari jumlah tersebut, rasio antara penduduk laki-laki dengan perempuan adalah 100,6. Artinya, penduduk laki-laki di Indonesia lebih banyak 0,6% daripada perempuan. Rasio ini cenderung meningkat secara kontinu sejak sensus 1971.

Data tersebut membantah pendapat kebanyakan orang yang mendukung poligami bahwa poligami dibenarkan karena jumlah penduduk perempuan lebih banyak. Padahal pendapat itu tidak benar! Data penduduk di negara manapun, rasio jumlah laki-laki dan perempuan tidak berbeda jauh. Selisihnya dibawah 5% dari jumlah penduduk. Bahkan menurut ilmu genetik, probabilitas kelahiran anak laki-laki dan perempuan adalah 1:1. Dengan mengasumsikan margin error dibawah 5%, maka tetap disimpulkan bahwa jumlah penduduk laki-laki dan perempuan adalah sama. [4]

Dalam tulisan penulis sebelumnya [5], bab pembicaraan poligami tidak bisa dilepaskan dari definisi dasarnya yaitu poligini. Pendapat ‘jumlah penduduk’ sebagai hujjah adalah pembenaran terhadap poligini, bukan poligami. Sebab jika poligami pembenarannya, maka semestinya data statistik mendukung batasan jumlah istri yang boleh dipoligami, yaitu 4 (empat). Namun kenyataanya, perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan selalu 1:1, bukan 1:4.

Al Quran, dan Rasulullah pun tidak pernah menyebutkan statistik sebagai alasan poligami. Bahkan pada saat Rasulullah berdakwah di tanah Arab, jumlah penduduk laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan. Indikasinya bisa difahami dari isu besar yang diangkat Rasulullah saat mulai berdakwah: Hentikan pembunuhan terhadap bayi-bayi perempuan!

Alasan Poligami

Prinsip dasar hukum Islam menyebutkan: mencegah kemudharatan lebih utama daripada mengambil maslahat yang lain. Menengok prinsip tersebut memang tak ada salahnya berpoligami demi alasan “daripada zina”. Itu alasan yang dibolehkan, tapi rendah! Itu alasan yang lebih pas untuk berpoligini, bukan poligami. Penulis sepakat dengan pendapat kaum feminis dan pejuang kesetaraan jender, alasan sexual tersebut adalah alasan yang menempatkan perempuan sekedar menjadi objek sex.

Ada 2 (dua) motivasi yang dapat dibenarkan seseorang melakukan poligami. Yang pertama adalah alasan dakwah, kedua mengangkat kehormatan perempuan. Rasulullah dan para shahabat mengambil jalan poligami untuk sebuah misi besar: dakwah. Dua motivasi itu di masa sekarang sangat jarang sekali ditemukan sebagai motivasi saat memutuskan beristri lebih dari satu.

Maka ketika seorang tokoh (baca: Aa Gym) yang banyak diidolakan ibu-ibu dan remaja-remaja putri mengambil jalan poligami, bermuncullan-lah penolakan. Mereka cemas, jalan yang diambil Aa Gym akan menjadi jurisprudeksi bagi para suami untuk melakukan poligini. Itulah yang lebih ditakutkan oleh ibu-ibu. Apalagi alasan yang digunakan Aa Gym lagi-lagi adalah alasan sexuality. [6] Penulis bisa memahami ketakutan para ibu tersebut. Bukankah sampai detik ini jalan poligami Rasulullah pun selalu dijadikan justifikasi oleh sebagian lelaki yang pro-poligini.

Namun anehnya, pada saat bersamaan praktek perzinahan anggota DPR justru mendapat simpati yang luas dari masyrakat; dengan menganggap orang-orang terlalu mencampuri urusan pribadinya Yahya Zaini dan Maria Eva. Ironis! Padahal keduanya sama-sama realitas sexual.

Versus Selingkuh

Terlepas dari sifatnya yang rendah atau tidak, sexuality sebagai motivasi poligami adalah sebuah realitas. Realitas ini memang telah menyeret kemuliaan definisi poligami ke arah definisi awalnya: poligini.

Di tengah polemik boleh atau tidaknya poligami, sebagian kita membiarkan begitu saja perzinahan, pelacuran, dan perselingkuhan. Perzinahan dianggap sebagai wilayah private, pelacuran dipandang sebagai realitas, dan selingkuh seakan menjadi pemanis kehidupan rumah tangga. Padahal 3 poin diatas adalah realitas sexuality yang belum tertuntaskan. Dunia permesuman diatas nyata-nyata menjadikan perempuan sebagai objek sex!

Setiap upaya memberantas kemaksiatan dunia permesuman diatas, selalu ditolak dengan mereduksi persoalan sexuality ke wilayah private. Saat poligami ditawarkan sebagai solusi, tiba-tiba persoalan sexuality menjadi wilayah publik. Sebagian orang seolah merasa punya hak menolak, mengecam bahkan mengkriminalkan orang-orang yang berpoligami; dunia sex nya orang lain; bahkan jika bisa memenjarakan para lelaki yang berpoligami. Sebuah paradoks!

Dengan membiarkan kemaksiatan, secara tidak langsung, kaum feminis dan pejuang kesetaraan jender mengakui bahwa sexuality adalah realitas yang tak terbantahkan. “Biarlah para lelaki berselingkuh dan memenuhi hasrat sexualnya, asalkan tidak menikah lagi.” Ingatlah, saat para suami berselingkuh, akan hadir perempuan-perempuan sebagai teman selingkuhan. Beberapa orang melihat masalah ini sebagai peluang usaha: lahirlah bisnis prostitusi.

Mengapa Poligami Ditakuti?

Apa yang membuat perempuan takut suaminya menikah lagi, bahkan membiarkan suaminya berselingkuh saja? Jawabannya adalah rendahnya kemandirian ekonomi perempuan. Mereke rela berbagi ‘keperkasaan suaminya’ dengan perempuan lain, tapi mereka tidak rela berbagi hak istri. Meski poligami menjamin hak-hak semua istri, namun kenyataan di lapangan, terjadi pengabaian hak istri yang lain. Hak-hak tersebut antara lain adalah akses terhadap harta, waktu, perhatian, pendidikan dan hubungan biologis.

Seandainya para istri yang dipoligami memiliki pemahaman Islam yang utuh, mereka sebenarnya bisa menuntut suaminya yang mengabaikan hak-hak mereka. Sayangnya, di satu sisi para suami yang berpoligami tidak berlaku adil, di sisi lain perempuannya diam saja dalam ketidakberdayaan mereka. Bahkan ada sebagian perempuan yang sangat “shalehah”nya bersikap tegar namun tetap dalam diam dan doanya; yang menurut keyakinan mereka itu, Insya Allah berpahala.

Ketakutan para perempuan itu harus dihapuskan. Caranya sederhana, yaitu dengan menegakkan keadilan dalam rumah tangga. Indonesia sudah mengesahkan UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Namun UU ini masih multi tafsir. Kekerasan yang dimaksud masih bersifat kekerasan fisik. Dalam UU pernikahan hanya disebutkan “pernikahan berdasarkan asas keyakinan agama masing-masing” [7]. Ayat tersebut juga multi tafsir. Padahal dalam satu agama pun masih terdapat banyak mazhab yang memiliki tafsir berbeda. Dalam peraturan perundang-undangan harus ada satu tafsir!

***

Gagasan poligami sebagai gagasan sosial secara normatif adalah gagasan yang sangat positif. Daripada membiarkan praktek perselingkuhan dan pelacuran tumbuh subur, poligami adalah solusi baik. Meski legalisasi poligami tidak serta merta menghapus praktek pelacuran, namun setidaknya kita menutup terbukanya peluang perselingkuhan atau pelacuran.

Citra buruk yang melekat pada poligami lebih disebabkan karena banyak penyelewengan dan ketidakadilan dalam praktek poligami. Kasus-kasus tersebut tidak serta merta mengkriminalisasi gagasan poligami. Hukum normatif tidak bisa direduksi hanya karena penyelewengan oleh manusianya. Hukum normatif adalah tatanan ideal masyarakat. Jika terjadi penyelewengan itu lumrah. Disinilah letak peranan istitusi hukum menegakkan tatanan tersebut.

Urusan sexual memang wilayah private. Namun praktek sexual yang tak beraturan dapat menjadi masalah sosial.

————————-

[1] Aa Gym atau Abdulullah Gymnastiar adalah pimpinan Pondok Pesantren Darut Tauhid, Bandung, sekaligus penceramah kondang materi Manajemen Qolbu.

[2] Yahya Zaini: Anggota DPR RI dari Golkar yang menjabat Sekretaris Fraksi Golkar, Ketua Bidang Kerohanian Partai Golkar dan mantan Ketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

[3] Maria Eva: Teman selingkuhan Yahya Zaini; artis dangdut dan belum pernah menikah.

[4] Data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil sensus tahun 2000.

[5] Poligami Adalah Berkah, Yusuf Caesar, 2005 –> http://caesar.or.id/wp/2005/12/17/poligami-adalah-berkah/

[6] Alasan yang dipakai Aa Gym adalah berpoligami daripada TTM (Teman Tapi Mesum). Menurut pendapat penulis, ini adalah wilayah sexuality.

[7] UU No. 01 Thn 1974 Tentang Perkawinan, pasal 2 ayat 1 berbunyi: “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya“. Penafsiran tentang Agama dan Kepercayaanya ini tidak diatur oleh UU. UU menyerahkan kepada penafsiran warga negara.

 

Poligami adalah Berkah

Tulisan berikut dibuat oleh seorang teman, cukup menarik. Cuma sebagai wacana aja….

Poligami adalah Berkah

Poligami dalam Islam adalah rahmat Allah yang besar. Tapi sayangnya, sebagian orang dimasa sekarang menolaknya dengan keras. Penetrasi pemikiran (fikroh) sekuler, liberalisme dan feminisme telah mengaburkan pemahaman tentang poligami dalam Islam. Akhirnya, sebagian orang secara membabi-buta menolak poligami.

Sebelum memahami persoalan poligami, sudah sewajarnya kita mempelajari definisi, sejarah dan tujuan poligami itu sendiri. Tidak hanya pandai menolak dan gebyah-uyah mendangkalkan kebaikan yang ada pada poligami itu sendiri. Dengan pemahaman yang memadai, diharapkan dukungan dan penolakan terhadap poligami benar-benar lahir dari sebuah jawaban rasional.

Selain istilah poligami, dikenal pula istilah poligini. Poligini adalah menikahi wanita lebih dari satu dalam waktu bersamaan. Poligami memiliki makna yang sama dengan poligini. Perbedaannya adalah dalam poligami jumlah wanita yang boleh dinikahi dibatasi. Sedangkan poligini tidak membatasi jumlah wanita yang boleh dinikahi. Kebanyakan orang hanya mengenal poligami tanpa mengetahui bahwa istilah poligami hanyalah turunan dari istilah poligini. Sehingga poligini yang sering dilihatnya, dikiranya/disebutnya poligami. Bagi orang yang berlatar belakang pendidikan Matematika dan Hukum, mereka memandang penting perbedaan definisi ini.

Selain soal batasan jumlah wanita yang boleh dinikahi, perbedaan poligini dan poligami lebih banyak menyangkut maksud dan tujuan diberlakukannya poli-poli tersebut. Poligini muncul bertujuan untuk menyalurkan libido lelaki yang secara fitrah memang lebih besar daripada libido kaum hawa. Bukan kemauan para lelaki memiliki libido besar, tapi ‘sudah dari sononya‘ begitu. Secara biologis, produksi sperma lelaki berlangsung terus menerus tanpa henti sejak akil baligh hingga ajal menjemputnya. Bahkan di umur 70 tahun, kelenjar teosteron lelaki masih memproduksi sperma. Sedangkan produksi ovum perempuan bisa beristirahat tiap bulannya (baca: haid/menstruasi). Bahkan perempuan memiliki masa menapause. [1]

Perempuan patut bersyukur bisa melakukan haid untuk mengeluarkan sel telurnya yang tidak dibuahi. Tanpa diniatkan dan memerlukan nafsu apapun untuk mengeluarkannya, haid akan berlangsung dengan sendirinya. Nggak ada wanita ‘kebeled’ haid, seperti halnya dalam kencing. Sedangkan lelaki hanya bisa mengeluarkan sel spermanya melalui tiga cara: mimpi basah, onani dan sex. Ada dentuman hormon, emosi dan jiwa yang memaksa sperma dikeluarkan. Jika ditahan, penyakit kelenjar prostat siap menanti. Bersyukurlah wahai wanita!

Sedangkan poligami memiliki maksud mengatasi persoalan sosial yang muncul dari poligini; yaitu kehormatan, keturunan, dan keadilan. Pertama, mengangkat kehormatan perempuan menuju perikatan suci yaitu pernikahan. Kedua, menjaga silsilah keturunan dan masa depan keturunan deri persoalaan budaya, sosial, dan ekonomi di kemudian hari. Ketiga, menegakkan keadilan ekonomi dan biologis diantara para perempuan yang dipoligini.

Sejarah peradaban manusia diwarnai dengan praktek poligini dimana-mana. Praktek poligini dapat terjadi pada sistem sosial patrilineal (Ayah) maupun matrilineal (Nenek-Mamak). Para nabi dalam agama samawi juga mempraktekkan poligini, tetapi poligini dalam arti poligami, bukan poligini an-sich.

Hanya 2 peradaban dalam sejarah peradaban dunia yang sama sekali tidak pernah mempraktekkan poligini yaitu Romawi Kuno dan Yunani Kuno; akar dari sejarah peradaban eropa modern. Tetapi sejarah mencatat, di 2 peradaban yang menentang poligini itulah, praktek pelacuran, perzinahan dan perselingkuhan meraja lela bahkan diijinkan. Monogami hanyalah praktek hukum diatas kertas. Kebutuhan sosial poligini (baca: sex) ditoleransi dengan menggelar praktek pelacuran, perzinahan dan perselingkuhan. Disanalah wanita hanya dijadikan simbol cinta, disanjung dan dinomersatukan, tanpa diperhatikan harga dirinya.

***

Poligami lebih mulia daripada poligini. Asumsi awal praktek poligami sebenarnya adalah monogami. Tapi menimbang kebutuhan sosial dan biologis manusia seperti yang disebutkan awal tadi, lalu dilakukan perbaikan sistem poligini, yaitu poligami. Poligami memang hanya dikenal dalam ajaran Islam. Diluar Islam, mereka justru mempraktekkan poligini atau monogami plus (plus=perzinahan).

Inilah ayat yang menjadi dasar praktek poligami dalam Islam

Dan jika kami tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
[An Nisaa: 3]

Dalam ayat tersebut, Allah memberi toleransi kepada lelaki untuk menikahi wanita yang mereka senangi: dua, tiga atau empat. Ini bukan perintah, tetapi toleransi poligini yang dibatasi. Itupun masih ditambahi syarat: Adil! Jika tidak mampu adil, maka nikahi satu wanita saja.

Perdebatanpun terjadi seputar definisi ‘adil’. Jika kita menggunakan definisi adil dari buah pikiran manusia, maka kesepakatan arti ‘adil’ tidak akan pernah tercapai [2]. Seperti bantahan orang-orang yang selalu menolak poligami dalam Islam dengan alasan: lelaki tidak akan pernah bisa adil, sembari memebri pengecualian “tapi kalau Rasul bisa!” Inilah ayat yang selalu menjadi dalil para pengingkar poligami, baik kelompok sekuler maupun Islam Terselubung (baca: Islam Liberal).

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri dari kecurangan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[An Nisaa: 129]

Karena konteks pembicaraan kita adalah tentang tafsir firman Tuhan maka definisi ‘adil’ harus menggunakan definisi dari Tuhan, bukan manusia. Al Quran bukan ayat yang bisa dibentur-benturkan demikian. Lihatlah konteks pembicaraan Tuhan dalam kata adil di kedua ayat tersebut.

Dalam ayat yang mengijinkan poligami, Allah sedang berbicara soal harta anak yatim (materi). –Bacalah-An-Nisa-ayat-2–. Karena dikhawatirkan terjadi perbuatan memakan harta anak yatim (baca: ketidakadilan), maka Islam menghimbau untuk menikahi wanita biasa saja (bukan anak yatim) yang disenangi paling banyak empat. Jadi, adil yang lagi dibicarakan dalam ayat 3 surat An Nisaa adalah adil soal material. Bagaimanapun soal material, sangat mungkin sekali terjadi keadilan –kalau-mau-adil–, karena ukurannya cukup jelas: angka matematis.

Sedangkan kata ‘adil’ dalam An Nisa ayat 129, “Dan sekali-kali kamu tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin…“, konteksnya ada di ayat 128: yaitu sikap nusyuz (acuh tak acuh). Lebih jelasnya, maksud “… kamu tidak akan dapat berlaku adil…” adalah soal sikap/kecenderungan, yang umumnya diterima perempuan dalam bentuk perasaan mereka.

Memang kita akui, tidak akan ada satupun manusia yang dapat berlaku adil jika ukurannya adalah soal hati. Ukuran hati sangatlah subjektif, sangat bergantung pada tingkat keimanan, kedewasaan, pendidikan, sikon dan latar sosial budaya. Allah tidaklah mungkin menetapkan syariatnya yang bisa ditafsirkan manusia sesuka hatinya.

Lihatlah, di ayat soal poligami, Allah menetapkan syarat adil dalam konteks adil soal meterial: nafkah dan sex. Sedangkan dalam ayat 129, Allah mengisyaratkan manusia tidak mungkin bisa adil dalam soal sikap nusyuz (acuh tak acuh/kecenderungan) sehingga membuat yang lain terkatung-katung (cinta. Contoh simpelnya, jangan sampai istri muda dibelikan rumah dan mobil, sedangkan istri tua cukup diberi nafkah makan saja. Itu jelas perbuatan tidak adil yang melanggar ayat soal poligami (An Nisaa: 3). Tapi soal hati, wallahu alam, yang pasti kemungkinan istri tua akan merasa diacuhkan (meski belum tentu diacuhkan). Makanya Allah memberi solusi mengatasi ini dengan melarang kita melakukan kecurangan (An Nisaa: 129) yang membuat istri lainnya terkatung-katung. Soal keadilan ‘rasa’, Rasulullah sekalipun nyaris kesulitan mempraktekannya. Masalahnya ini soal rasa.

Tercatat dalam sejarah, bagaimana cemburunya Aisyah pada Khadijah sebagai istri yang paling dicintai Rasul. Tercatat pula dalam sejarah, bagaimana Rasulullah tersinggung saat mengetahui putrinya (baca: Fatimatuzzahra) sedih mengetahui Ali bin Abu Thalib akan menikah lagi. Sampai-sampai Rasul mengeluarkan kata-kata, “Barang siapa yang menyakiti putriku, maka ia menyakiti Rasul Allah.”. Sekali lagi, ini soal perasaan. Meskipun demikian, kecintaannya kepada putrinya tidak sampai menolak poligami. Rasul tetap melakukan poligami dan mengijinkan para sahabat melakukannya. Bahwa Rasulullah tidak terima anaknya di poligami oleh Ali bin Abu Thalib, tidak lantas dijadikan alasan bahwa poligami dilarang, dan Rasul-pun tidak lantas mengeluarkan larangannya. Tolong bedakan antara normatif hukum dengan soal perasaan.

***

Yang dewasa ini terjadi adalah praktek poligini, atau poligami yang disalahartikan. Mereka menggunakan dalil ‘toleransi berpoligami’ untuk menikah lagi secara bebas. Padahal untuk mengambil keputusan berpoligami, semestinya para lelaki memahami dengan baik syarat yang ditetapkan oleh Allah: Adil! Para lelaki tidak boleh cenderung pada istri yang lebih muda sehingga menimbulkan ketidakadilan ekonomi.

Konsep ketidakadilan dalam keluarga ini bukan berasal dari Islam, tapi dari negeri pendukung monogami: yaitu Eropa. Di Eropa sering terjadi ketidakadilan ekonomi dalam keluarga karena mereka memang tidak mengatur soal internal bahtera rumah tangga. Di barat, harta suami adalah miliknya sendiri, dan ia bebas memberikan kepada siapapun yang ingin dia berikan. Itulah sebabnya, wanita barat terkadang harus berjuang sendiri untuk menjaga ketahanan ekonominya, sebab lelakinya memang tidak bertanggung jawab penuh soal perekonomian keluarga.

Di barat, konsep keluarga hanya didasarkan pada konsep ‘cinta’. Laksana Pangeran Cupid [3] yang mendambakan Dewi Venus [4] atau tragedi cinta St. Valentine [5]. Nyaris seluruh catatan sejarah peradaban Yunani dan Romawi Kuno dipenuhi dengan episode soal Cinta. Konsep cinta tunggal inilah yang dikemudian hari diterjemahkan dalam konsep monogami. Pernikahan bagi orang barat, bukanlah bertujuan pembentukan keluarga, tapi peresmian cinta.

Celakalah kaum muslimin yang mendewakan cinta.

Bangsa Eropa berusaha melakukan expansi konsep monogami mereka. Mereka memaksa kaum muslimin menerima konsep monogami dengan dalih ketidakadilan, gender dan feminisme. Padahal dalam Islam tidak ada persoalan gender; sementara konsep poligami dalam Islam sudah ditata dalam konsep keadilan Islam. Demi tujuannya itu, barat justru menebar frase pemikiran paling menakutkan dalam sejarah peradaban manusia: CINTA. Ratusan juta pemuda pemudi muslim terjerat senandung cinta, yang akhirnya justru malah menolak konsep yang telah disediakan Islam. Perlahan tapi pasti, mereka menjadi pendukung gerakan feminisme ala barat. Sedangkan jika ditanya soal definisi dan sejarah monogami, poligini, dan poligami, mereka bungkam. Mereka cuma menelan mentah-mentah jualan cinta orang barat.

***

Bicara soal poligami, ayah saya pernah menyuruh saya pergi ke tempat pelacuran. Disana saya dipersilakan bertanya kepada para pelacur; sukakah mereka dengan profesi mereka (baca: profesi pelacur). Jangan kaget jika mendapatkan jawaban: “Saya lebih baik dinikahi jadi istri simpanan daripada harus bergelimang dosa.”. Ternyata, mereka lebih memilih jalan kehormatan: dipoligami. Tapi kita harus gigit jari, kebanyakan istri pelanggan kompleks pelacuran adalah pendukung berat monogami plus, yaitu mendukung monogami sembari mendiamkan pelacuran, perzinahan dan perselingkuhan. “Mending suami gw jajan ajah deh daripada gw dimadu.”.

Mungkin anda termasuk perempuan yang mendukung monogami dan berusaha memaksakannya dalam draft hukum UU Perkawinan Indonesia. Bersyukurlah anda telah mendapatan suami yang mencintai anda dan andapun mencintainya. Tapi janganlah sombong! Mentang-mentang anda sudah menggenggam apa yang ingin anda dambakan, lalu anda menghalangi kemungkinan orang lain mendapatkan kebahagiaan pula. Anda tidak mencintai pasangan hidup anda, tapi anda hanya mencintai diri sendiri. Cinta anda adalah cinta yang dibalut dalam ke-Aku-an(baca: Egoisme!).

Ingatlah di luar sana, ada banyak wanita yang tidak seberuntung anda, hingga mereka harus merelakan dipoligami. Mereka adalah para pelacur, korban perkosaan, janda-janda miskin, dan gadis-gadis yang telat menikah. Diluar sana banyak pula wanita yang menginginkan mendapatkan kebaikan dari suami anda, wanita-wanita shalehah yang kesulitan mencari suami shaleh. Bagaimana jika anda berada diposisi mereka? Mempertahanan idealisme monogami? Sampai mati kemungkinan anda tidak mendapatkan suami yang anda dambakan.

Mungkin anda seorang lelaki yang mendukung monogami. Bersyukurlah karena istri anda masih bisa memenuhi semua kebutuhan cinta anda. Saya cuma berdoa, semoga anda benar-benar mencintai pasangan hidup anda: tidak berselingkuh, tidak berzina, dan tidak melacur. Jika anda melakukannya, tanyakan pada hati nurani anda: Apakah anda setuju dengan saya soal Poligami?

:: Untuk seorang sahabat yang telah memberi inspirasi dari diskusi kita malam itu. Semoga Allah memenuhi apa yang kau inginkan.
———————————-

[1] Menopause: Masa dimana terhentinya produksi ovum pada wanita. Biasanya terjadi saat wanita berumur antara 45-50 tahun.
[2] Baca: Mencintai Tanpa Kepemilikan, –Caesar Personal Blog
[3] Pangeran Cupid (berarti: The Desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut orang Yunani & Romawi kuno sebagai tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita. Saking rupawannya, sejarah barat mendramatisir dengan mengatakan bahwa ibunya sendiri mau berzina dengan Cupid!
[4] Dewi Venus dikenal sebagai dewi kecantikan bangsa Romawi. Namanya diambil dari planet Venus, yang dikenal sebagai planet tercantik oleh para atronom.
[5] The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari yang menjadi sumber sejarah perayaan Valentine Day`s.

 

Menjelang Chelsea vs Arsenal…..

Ok, from now on the hot issue is not again Aa Gym and YZME….Now, it’s time for Chelsea vs Arsenal…Smoga Chelsea menang!!

Kmaren om Jose udah nelp gw utk berkonsultasi ttg strategi…Menurut gw strategi tetaplah jalanin aja pakem yg udah ada…Yaitu pertahanan sebagai awal penyerangan…Prediksi line-up :

Formasi tetap 4-4-2 Diamond  dengan skuad: Cudicini, Geremi, Carvalho, Terry, Cole, Essien, Lampard, Robben, Ballack, Drogba dan Sheva.

Hmmm…Sebenernya gw lebih milih formasi seperti ini sih, yaitu 4-3-3 dengan susunan:  Cudicini, Geremi, Carvalho, Terry, Cole, Makelele, Lampard, Ballack, Essien, Robben, dan Drogba. Knapa?? Sekali lg…Walaupun Sheva tempo hari ngegolin…Tapi ya tetep aja dia belom bisa sepenuhnya beradaptasi….Jadi ya lebih baik dia diturunkan sebagai cadangan lah…Biar ngerasa usahanya dari awal, kayak Drogba dulu…

Yah, pokoknya gimanapun skuadnya…Smoga Chelsea menang!! Prediksi skor: 3-1 untuk Chelsea…

-Delonick-