

Masih teringat jelas di ingatan kita, saat Chelsea baru saja menunjuk Mourinho sebagai Manajer dan melakukan jumpa pers pertamanya. Banyak orang yang terhenyak oleh perkataannya “I think I’m a Special One”.
Ya, itulah Jose Mourinho!! Seseorang yang bukan hanya pandai meracik strategi dan bermain kata2 di media, akan tetapi dia sendiri tahu bahwa dia adalah orang yang hebat, sehingga tidak segan2 memuji dirinya sendiri (sounds like me? :p). Tapi memang tidak hanya sekedar omongan. Total sudah 6 piala dia berikan hanya dalam tempo 3 musim. Padahal pelatih sebelumnya harus mengais-ngais untuk mendapatkan seonggok piala. Itulah dia sang Special One yang akhirnya harus angkat kaki karena tidak bersedia kewenangannya dikangkangi oleh Roman Abramovich.
Setelah itu, dengan satu musim berikutnya hanya mendapatkan gelar “treble runner-up” di era kepemimpinan orang yang paling dibenci sedunia “Avram Grant” (salah satunya karena dia pula era Mourinho berakhir) dan 3/4 musim dengan menjadi tim papan atas paling bawah (karena tidak bisa mengalahkan 1 tim pun dari The Big Four), datanglah seorang pelatih dengan track record yang luar biasa. Bayangkan, apapun yang disentuhnya berubah menjadi emas!! Dialah yang membawa timnas kuda hitam berjaya di Piala Dunia, maupun Eropa, karena dia pula tim PSV Endhoven bisa sampai semi final Liga Champions, maka tidak salah jika seluruh fans berharap dengan sentuhan magis sang manajer, yang hanya punya waktu sedikit ini.
Pucuk dicinta, bulanpun tiba. Apa yang diharapkan menjadi kenyataan. Bahkan lebih. Satu piala FA dan nyaris masuk ke Final Liga Champions hanya karena kalah keberuntungan membuktikan bahwa tangan emas dari sang pelatih adalah solusi yang sangat dibutuhkan Chelsea sepeninggal Jose Mourinho. Supporter pun berbondong-bondong menuntut klub untuk dapat mempertahankan sang midas, karena sudah terlanjur jatuh hati. Tidak hanya supporter, bahkan pemain pun sangat menyayangi pelatih ini. Tapi apa bisa dikata? Sang pelatih memilih untuk melanjutkan masa tugasnya di Rusia sampai Euro 2010.
Apa yang membuat pelatih ini spesial? Well, cara dia melatih, memotivasi dan meracik strategi memang sangat hebat. Bagaimana dia mengerti kelebihan dan kekurangan dari timnya. Hal ini terlihat pada saat melawat ke Barca. Memang tak ada pilihan lain selain Negative Football, hal yang tidak diterapkan MU sehingga bisa kalah dengan “mudah”-nya dari Barca.
Tapi sebenarnya, jika boleh dikata, pelatih yang satu ini lebih dari spesial. Berbeda dengan sang “Special One”, pelatih yang satu ini sangat sopan dan rendah hati. Apapun keberhasilan yang dicapai klub, selalu dia katakan adalah hasil dari kerja keras tim. Pernyataan yang paling berkesan di hati, adalah ketika dia katakan bahwa “para pemain harus bermain maksimal demi mereka sendiri dan klub, bukan demi saya”. “Semua yang dicapai adalah keberhasilan mereka, bukan karena saya”. Hal yang sama dia ucapkan setelah memenangkan Piala FA. “Semua yang dicapai ini adalah hasil kerja keras tim, karena memang pada dasarnya tim ini adalah tim hebat”.
Selain itu, hal yang sangat hebat adalah bagaimana dia bisa menjadi sangat dekat ke para pemain, akan tetapi dia tidak membuat siapapun menjadi pemain spesial. Dia pun bisa memulihkan Didier Drogba, bahkan seorang Malouda pun bisa menjadi mematikan di bawah asuhannya.
U’re more than just Special one!! Hope we can see U in the next couple years.
Flying High Up in the sky, we’ll keep the blue flag flying high…
From Stamford Bridge to Wemb(-er)ley, we’ll keep the blue flag flying high…